Senin, 03 September 2012

Beberapa Kebiasaan Suku Dayak Ngaju

Ungkapan Rasa Terima Kasih

Bahasa Dayak tidak mengenal  kosa kata  ungkapan rasa Terima Kasih. Ungkapan rasa terima kasih diungkapkan dalam sikap dan perbuatan, serta rasa hormat yang mendalam.
Seorang yang telah menerima kebaikan dari sesamanya, tidak begitu saja melupakannya. Semua kebaikan yang telah mereka terima, mereka simpan dalam lubuk hati yang terdalam, bahkan dalam setiap kesempatan, mereka selalu  menceritakan kepada anak turunannya  semua kebaikan-kebaikan yang pernah mereka terima, serta menyebutkan dengan lengkap nama dan identitas rekan baiknya itu.
Dengan demikian secara tidak sadar, anak turunannya juga turut serta mensyukuri, mengenang dan menghormati orang yang telah berbuat baik bagi keluarga itu. Demikian pula seluruh keluarga, satu sama lain selalu menceritakan kebaikan yang pernah mereka peroleh dari sesamanya, dan rasa syukur dan hormat semakin berkembang dan menguasai kehidupan mereka.
Biasanya orang Dayak selalu ingin membalas kebaikan dengan kebaikan. Dalam setiap kesempatan, orang yang pernah menerima kebaikan dari seseorang akan selalu berusaha membalas kebaikan yang pernah mereka peroleh, sekalipun tidak langsung kepada yang bersangkutan. Terkadang kebaikan  seseorang tidak langsung diterima kembali olehnya, namun kelak anak cucu mereka yang tergerak  mengupayakan membalas kebaikan. Naluri membalas kebaikan yang pernah diterima, bukan menjadikan beban bagi mereka, namun memiliki nilai kebahagiaan sendiri, bahkan tradisi demikian menjadikan orang Dayak memiliki ikatan batin yang kuat kepada sesamanya .

Pahuni

Pahuni ialah suatu tradisi dalam suku Dayak bahwa apabila menolak makanan yang telah dengan tulus ditawarkan untuk disantap, khususnya nasi goreng dan makanan yang terbuat dari ketan, maka akan ada resikonya.  Resiko berupa  malapetaka, baik ringan maupun berat, bahkan bisa membawa kematian.  Apabila terpaksa harus menolak, demi menetralisir situasi, mereka akan menyentuh  tempat atau piring di mana makanan diletakan sambil berguman mengucapkan kata singkat “sapulun”. Dengan demikian penolakan tersebut telah dianggap sah dan terbebas dari resiko kepuhunan. Selain dengan cara itu, untuk menetralisir dapat pula dengan cara menjumput sedikit makanan yang ditawarkan tersebut sedikit, sambil berguman “puse-puse”.

Pahingen

Pahingen ialah suatu tradisi dalam masyarakat Dayak bahwa  seorang suami yang isterinya sedang mengandung bayi mereka, harus mampu kontrol diri dalam setiap kata, sikap dan perbuatannya. Karena apabila lepas kontrol, misalnya saja memotong tangan kelawet yaitu sejenis orang hutan, maka anak yang akan lahir, dikhawatirkan mengalami cacat pada tangannya.

Lapak Laminak

Lapak Laminak atau cacak burung adalah tanda silang yang diyakini sebagai penolak bala. Tanda tersebut pada umumnya digambarkan pada sebilah bambu atau pada daun sawang yang digantung di depan rumah.

Salasa

Salasa berarti Selasa. Apabila bepergian, orang Dayak selalu berusaha menghindari hari Selasa, karena bagi mereka  hari Selasa – sala – yang berarti salah. Akan banyak kesalahan dan kesialan yang dialami  bila nekad bepergian pada hari Selasa. Terutama apabila bepergian dengan arah yang bertolak belakang. Misalnya dalam suatu keluarga,  dua  kakak beradik akan bepergian ke tempat yang berbeda pada hari Selasa, kakak pergi ke arah timur dan adik ke arah barat. Apabila keberangkatan tersebut memang tidak mungkin lagi ditunda, terpaksa salah satu ngalah, harus berangkat sebelum atau sesudah Selasa, demi menghindari terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Warna Lime Ba

Lime Ba berarti lima ba maksudnya lima warna yang dimiliki oleh orang Dayak yaitu
1.    Baputi – putih
2.    Bahandang – merah
3.    Bahenda – kuning.
4.    Bahijau – hijau
5.    Babilem – hitam.


(http://maneser.kalteng.net)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar